Kamis, 25 Agustus 2011

Mengelola Tunjangan Hari Raya

MENGELOLA TUNJANGAN HARI RAYA

Pertanyaan :

Assamu’alaikum Wr.Wb.

Ibu Sri, minggu ini saya menerima Tunjangan Hari Raya. Tetapi karena banyak pengeluaran di bulan Ramadhan ini pengalaman yang sudah-sudah uang THR tidak cukup untuk berlebaran, apalagi kami punya kewajiban mudik untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan kerabat. Sehingga kami selalu mengambil tabungan untuk menutupi kekurangan padahal tabungan ini sebenarnya kami peruntukkan untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak bila anak sakit atau ada musibah.

Untuk itu mohon tips-tips agar saya bisa mengelola THR dengan baik dan tidak tekor?

Wassalam Wr.Wb.

Yofina – Tangerang


Jawaban :

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Menjelang lebaran memang ada kewajiban dari perusahaan untuk memberikan Tunjangan Hari Raya kepada para karyawannya sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.04/1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan. Bagi mayoritas orang THR ini dianggap rejeki nomplok yang jatuh menjelang lebaran. Umumnya pengeluaran di bulan Ramadhan dan Idhul Fitri memang meningkat bahkan bisa 2 – 3 kali lipat dibandingkan bulan lainnya sehingga sangat terbantu oleh adanya THR.

Sayangnya banyak yang belum mampu mengelola THR dengan baik. Buktinya sudah ada THR pun pengeluaran masih bertambah, bahkan tekor. Harusnya dengan adanya tambahan pemasukan di bulan itu kan gaji menjadi 2 kali lipat karena umumnya besarnya THR minimal 1 bulan gaji. Seharusnya sebagian THR bisa ditabung tetapi dalam prakteknya yang sering terjadi belum bisa membiayai seluruh pengeluaran dan akhirnya membobol tabungan juga. Nah untuk itu diperlukan tips-tips agar bisa mengelola THR dengan baik, antara lain :

1. Setiap alur dana yang masuk sesuai proses perencanaan keuangan, hendaknya mengikuti ketentuan Penerimaan – Zakat – Bayar Utang - Tabungan – Pengeluaran. Oleh karena itu segera setelah terima THR bayarkan zakatnya 2,5 % dari nominal THR yang diterima, 30 % buat melunasi hutang yang tidak wajib (kalau ada). Pengertian hutang wajib yang umumnya dilunasi dengan penghasilan rutin seperti cicilan KPR bulanan. Hutang yang tidak wajib contohnya cicilan kartu kredit atau hutang lainnya., sehingga THR bisa memperingan beban hutang kita. Selanjutnya usahakan minimal 10 % dari THR ditabung atau diinvestasikan, barulah sisanya digunakan untuk belanja kebutuhan hari raya.

2. Agar sisa dana yang ada cukup untuk membiayai pengeluaran lebaran catat dan susunlah anggaran pengeluaran yang besarnya disesuaikan dengan dana yang ada. Jangan besar pasak daripada tiang. Buatlah skala prioritas dalam pengeluaran. Contohnya berikan THR juga untuk orang yang bekerja pada kita seperti karyawan bagi yang memiliki usaha, pembantu, sopir, dll. Pengeluaran berikutnya mungkin pemberian infaq kepada orang tua dan kerabat. Barulah menentukan pengeluaran untuk hari raya seperti belanja bahan makanan, kue-kue kering dan pakaian jika memang dananya mencukupi. Tidak apa-apa lebaran tanpa baju baru jika baju lama masih bersih dan rapi. Rasanya aneh jika memaksakan lebaran berpakaian baru tapi hutangnya belum dilunasi.
Sekali lagi : komponen besarnya anggaran harus disesuaikan dengan dana yang tersedia. Ini penting!

3. Lalu bagaimana dengan biaya mudik? Sebenarnya biaya mudik itu tidak bisa dibebankan pada THR karena besarnya THR yakin tidak mencukupi jika harus digunakan untuk menanggung biaya mudik. Seharusnya biaya mudik sudah dianggarkan tersendiri sebagai komponen biaya liburan dan sudah disiapkan tabungannya. Bila memang belum memiliki persiapan buat biaya mudik tidak usah memaksakan diri untuk mudik. Silaturahmi bisa dilakukan dengan telpon atau sms saja.

Demikian, selamat mengelola THR. Perlu diingat kadang kita tergoda untuk menghabiskan dana untuk lebaran, pas abis lebaran kita gigit jari karena balik dari mudik tidak memiliki uang lagi, dan bagi yang karyawan gajiannya masih lama. Hasilnya berhutang lagi. Semoga terhindar dari yang demikian. Amin

Wassalam.




Selasa, 02 Agustus 2011

Mengatur Keuangan Bulan Ramadhan dan Idhul Fitri

Saat ini kita telah kedatangan tamu yang istimewa yaitu Bulan Ramadhan 1432 H. Kedatangan bulan Ramadhan ini tentunya kita sambut dengan gembira karena kesempatan untuk meraih pahala telah kita peroleh. Karena segala aktivitas di bulan Ramadhan bernilai ibadah, maka persiapan ke arah itu harus dilakukan baik pribadi maupun keluarga.

Selain persiapan fisik, mental, ruhiyah, maupun ilmu pengetahuan, ternyata persiapan maliyah (materi) juga tidak kalah pentingnya. Betapa tidak? Karena pada bulan ini memerlukan sarana penunjang yaitu materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya sih pada bulan ini kita sudah punya tabungan yang cukup yang telah dikumpulkan selama 11 bulan lainnya sebagai bekal ibadah. Jadi ketika memasuki bulan Ramadhan kita dapat beribadah dengan khusyu tanpa disibukkan lagi dengan kerja ngoyo untuk mencari harta.

Pengaturan keuangan juga menjadi sesuatu yang penting di momen Ramadhan dan Idhul Fitri karena tergolong dalam ujian pengendalian diri. Kebanyakan di momen hari besar ini kemampuan pengendalian diri lainnya bisa sukses, tetapi ternyata pengendalian diri untuk tidak boros dalam pengeluaran tidak berhasil. Banyak anggaran rumah tangga yang jebol karena pengeluaran membengkak dan menghabiskan seluruh simpanan. Umumnya pengeluaran sebuah keluarga di bulan ini bisa meningkat 2 – 3 kali lipat dari pengeluaran di bulan lainnya. Selain karena kebutuhan yang lebih banyak, juga dipicu kenaikan harga barang yang sudah mulai terasa di awal Ramadhan. Lalu bagaimana kita mengelola keuangan sehingga kita dapat melewati momen Ramadhan dan Idhul Fitri dengan selamat agar ibadahnya terjaga dan keuangan rumah tangga juga terpelihara?

Susunlah Anggaran

Anggaran ini sangat penting sebagai pedoman dalam berbelanja selama satu bulan penuh. Dengan anggaran yang rapi kita bisa terhindar dari pembelanjaan yang tidak perlu sehingga dapat menekan pengeluaran. Anggaran bisa memilah mana yang harus diprioritaskan untuk dibelanjakan. Untuk itu selain kita menyusun aktivitas ibadah dan amalan Ramadhan, usahakan juga untuk menyusun anggaran selama satu bulan. Hitunglah berapa anggaran yang diperlukan untuk belanja rutin dan pos-pos tambahan untuk keperluan lebaran seperti zakat, busana baru, kue-kue suguhan, hadiah lebaran, biaya mudik, dll. Pos rutin dipenuhi oleh anggaran bulanan seperti biasa dan pos tambahan dibiayai oleh THR (Tunjangan Hari Raya) yang diperoleh. Kunci dalam menyusun anggaran tentunya harus disesuaikan dengan pemasukan yang ada dan tidak dilebih-lebihkan. Misalnya jika memang dana tidak mencukupi untuk mudik tidak usah memaksakan diri untuk pulang kampung. Silaturahmi bisa dilakukan via telepon atau sms yang lebih menghemat. Kunci sukses dari penyusunan anggaran ini yaitu sudah jelas : harus mematuhinya ! Kita harus punya komitmen kuat agar tidak belanja keluar dari yang sudah dianggarkan.

Aturlah Menu dengan baik

Mengapa pengaturan menu makanan menjadi hal yang penting? Karena tiap Ramadhan umumnya belanja dapur harus diistimewakan. Pola konsumsi sebenarnya di bulan ini berubah karena kita tidak harus menyiapkan menu makan pagi dan makan siang. Logikanya sih kita harusnya bisa menghemat. Tetapi pada kenyatannya pos belanja dapur ini meningkat setiap bulan puasa. Kenapa anggaran bisa membengkak karena umumnya kita terdorong untuk makan yang lebih enak dan berkualitas dibandingkan bulan lainnya. Hal ini cukup wajar karena seharian kita berpuasa, tetapi sebenarnya yang harus dipentingkan adalah kadar gizinya dan keseimbangan menunya, tidak harus yang serba mahal. Disini peran ibu dalam pengaturan menu menjadi sangat penting. Bagaimana bisa menyusun menu yang sehat untuk berbuka puasa tanpa harus mahal. Perlu diingat lagi usahakan pengeluaran belanja dapur ini sama besarnya dengan pengeluaran rutin di bulan lain sehingga tidak merusak anggaran. Satu hal lagi adalah kaum ibu kadang ingin menyiapkan menu untuk buka puasa bisa 3 – 4 menu, ada kolak, es campur, gorengan, selain menu makan besarnya. Inilah yang mengakibatkan pembengkakan anggaran. Mengapa tidak 1 – 2 menu makanan saja, toh kadang kita berbuka dengan seteguk air dan 3 buah kurma seperti yang disunahkan Rasul, kita sudah berasa kenyang. Begitu juga untuk kue suguhan untuk hari raya usahakan membuat kue yang disesuaikan dengan perkiraan jumlah tamu yang hadir ke rumah Anda.

Bijak dalam berbelanja

Satu hal lagi yang mungkin menyebabkan anggaran di bulan Ramadhan dan Idhul Fitri bisa jebol karena kita tidak bijak dalam berbelanja. Sering lepas kontrol dalam pengeluaran karena tidak dianggarkan sebelumnya atau kita justru tidak mematuhi anggaran. Usahakan membeli barang untuk keperluan Ramadhan dan Idhul Fitri jauh-jauh hari menjelang hari H karena belum mengalami lonjakan kenaikan harga yang tinggi. Sayangnya tradisi perusahaan di negara kita memberikan uang THR mendekati lebaran sehingga kesempatan belanja juga mepet waktunya. Untuk itu rasanya perlu ada himbauan atau aturan agar THR diberikan di awal Ramadhan. Selain belum ada kenaikan harga tentunya bila segala sesuatu keperluan Lebaran telah disiapkan jauh hari sebelum memasuki Ramadhan, tentunya kita bisa lebih khusyu dalam beribadah tanpa disibukkan dengan kegiatan belanja lagi. Untuk menyiasati harga yang naik cobalah mencari tempat belanja yang lebih murah misalnya di tempat belanja grosir. Kita bisa berbelanja sekaligus dalam jumlah banyak dengan harga lebih murah, atau rame-rame berpatungan dengan tetangga membeli dalam partai besar.

Persiapan Sedekah

Hal lain yang krusial di bulan Ramadhan adalah pahala bersedekah berlipat ganda dibandingkan bulan biasa. Sehingga perlu ada persiapan dana yang cukup untuk melipat gandakan sedekah di bulan ini. Selain zakat fitrah, tentunya kita ingin juga memberikan hadiah lebaran atau THR buat khadimat atau orang yang bekerja pada kita, orang tua atau sanak famili yang membutuhkannya. Adalah jauh lebih penting menyisihkan uang untuk zakat dan sedekah bagi kaum dhuafa ketimbang memesan makanan yang berlebihan atau membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan.

Marilah kita menunaikan ibadah puasa dengan senantiasa mengendalikan diri dari hawa nafsu. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1428 H.

*) Penulis adalah konsultan keuangan keluarga muslim

Mengatur Keuangan Bulan Ramadhan dan Idhul Fitri

Saat ini kita telah kedatangan tamu yang istimewa yaitu Bulan Ramadhan 1432 H. Kedatangan bulan Ramadhan ini tentunya kita sambut dengan gembira karena kesempatan untuk meraih pahala telah kita peroleh. Karena segala aktivitas di bulan Ramadhan bernilai ibadah, maka persiapan ke arah itu harus dilakukan baik pribadi maupun keluarga.

Selain persiapan fisik, mental, ruhiyah, maupun ilmu pengetahuan, ternyata persiapan maliyah (materi) juga tidak kalah pentingnya. Betapa tidak? Karena pada bulan ini memerlukan sarana penunjang yaitu materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya sih pada bulan ini kita sudah punya tabungan yang cukup yang telah dikumpulkan selama 11 bulan lainnya sebagai bekal ibadah. Jadi ketika memasuki bulan Ramadhan kita dapat beribadah dengan khusyu tanpa disibukkan lagi dengan kerja ngoyo untuk mencari harta.

Pengaturan keuangan juga menjadi sesuatu yang penting di momen Ramadhan dan Idhul Fitri karena tergolong dalam ujian pengendalian diri. Kebanyakan di momen hari besar ini kemampuan pengendalian diri lainnya bisa sukses, tetapi ternyata pengendalian diri untuk tidak boros dalam pengeluaran tidak berhasil. Banyak anggaran rumah tangga yang jebol karena pengeluaran membengkak dan menghabiskan seluruh simpanan. Umumnya pengeluaran sebuah keluarga di bulan ini bisa meningkat 2 – 3 kali lipat dari pengeluaran di bulan lainnya. Selain karena kebutuhan yang lebih banyak, juga dipicu kenaikan harga barang yang sudah mulai terasa di awal Ramadhan. Lalu bagaimana kita mengelola keuangan sehingga kita dapat melewati momen Ramadhan dan Idhul Fitri dengan selamat agar ibadahnya terjaga dan keuangan rumah tangga juga terpelihara?

Susunlah Anggaran

Anggaran ini sangat penting sebagai pedoman dalam berbelanja selama satu bulan penuh. Dengan anggaran yang rapi kita bisa terhindar dari pembelanjaan yang tidak perlu sehingga dapat menekan pengeluaran. Anggaran bisa memilah mana yang harus diprioritaskan untuk dibelanjakan. Untuk itu selain kita menyusun aktivitas ibadah dan amalan Ramadhan, usahakan juga untuk menyusun anggaran selama satu bulan. Hitunglah berapa anggaran yang diperlukan untuk belanja rutin dan pos-pos tambahan untuk keperluan lebaran seperti zakat, busana baru, kue-kue suguhan, hadiah lebaran, biaya mudik, dll. Pos rutin dipenuhi oleh anggaran bulanan seperti biasa dan pos tambahan dibiayai oleh THR (Tunjangan Hari Raya) yang diperoleh. Kunci dalam menyusun anggaran tentunya harus disesuaikan dengan pemasukan yang ada dan tidak dilebih-lebihkan. Misalnya jika memang dana tidak mencukupi untuk mudik tidak usah memaksakan diri untuk pulang kampung. Silaturahmi bisa dilakukan via telepon atau sms yang lebih menghemat. Kunci sukses dari penyusunan anggaran ini yaitu sudah jelas : harus mematuhinya ! Kita harus punya komitmen kuat agar tidak belanja keluar dari yang sudah dianggarkan.

Aturlah Menu dengan baik

Mengapa pengaturan menu makanan menjadi hal yang penting? Karena tiap Ramadhan umumnya belanja dapur harus diistimewakan. Pola konsumsi sebenarnya di bulan ini berubah karena kita tidak harus menyiapkan menu makan pagi dan makan siang. Logikanya sih kita harusnya bisa menghemat. Tetapi pada kenyatannya pos belanja dapur ini meningkat setiap bulan puasa. Kenapa anggaran bisa membengkak karena umumnya kita terdorong untuk makan yang lebih enak dan berkualitas dibandingkan bulan lainnya. Hal ini cukup wajar karena seharian kita berpuasa, tetapi sebenarnya yang harus dipentingkan adalah kadar gizinya dan keseimbangan menunya, tidak harus yang serba mahal. Disini peran ibu dalam pengaturan menu menjadi sangat penting. Bagaimana bisa menyusun menu yang sehat untuk berbuka puasa tanpa harus mahal. Perlu diingat lagi usahakan pengeluaran belanja dapur ini sama besarnya dengan pengeluaran rutin di bulan lain sehingga tidak merusak anggaran. Satu hal lagi adalah kaum ibu kadang ingin menyiapkan menu untuk buka puasa bisa 3 – 4 menu, ada kolak, es campur, gorengan, selain menu makan besarnya. Inilah yang mengakibatkan pembengkakan anggaran. Mengapa tidak 1 – 2 menu makanan saja, toh kadang kita berbuka dengan seteguk air dan 3 buah kurma seperti yang disunahkan Rasul, kita sudah berasa kenyang. Begitu juga untuk kue suguhan untuk hari raya usahakan membuat kue yang disesuaikan dengan perkiraan jumlah tamu yang hadir ke rumah Anda.

Bijak dalam berbelanja

Satu hal lagi yang mungkin menyebabkan anggaran di bulan Ramadhan dan Idhul Fitri bisa jebol karena kita tidak bijak dalam berbelanja. Sering lepas kontrol dalam pengeluaran karena tidak dianggarkan sebelumnya atau kita justru tidak mematuhi anggaran. Usahakan membeli barang untuk keperluan Ramadhan dan Idhul Fitri jauh-jauh hari menjelang hari H karena belum mengalami lonjakan kenaikan harga yang tinggi. Sayangnya tradisi perusahaan di negara kita memberikan uang THR mendekati lebaran sehingga kesempatan belanja juga mepet waktunya. Untuk itu rasanya perlu ada himbauan atau aturan agar THR diberikan di awal Ramadhan. Selain belum ada kenaikan harga tentunya bila segala sesuatu keperluan Lebaran telah disiapkan jauh hari sebelum memasuki Ramadhan, tentunya kita bisa lebih khusyu dalam beribadah tanpa disibukkan dengan kegiatan belanja lagi. Untuk menyiasati harga yang naik cobalah mencari tempat belanja yang lebih murah misalnya di tempat belanja grosir. Kita bisa berbelanja sekaligus dalam jumlah banyak dengan harga lebih murah, atau rame-rame berpatungan dengan tetangga membeli dalam partai besar.

Persiapan Sedekah

Hal lain yang krusial di bulan Ramadhan adalah pahala bersedekah berlipat ganda dibandingkan bulan biasa. Sehingga perlu ada persiapan dana yang cukup untuk melipat gandakan sedekah di bulan ini. Selain zakat fitrah, tentunya kita ingin juga memberikan hadiah lebaran atau THR buat khadimat atau orang yang bekerja pada kita, orang tua atau sanak famili yang membutuhkannya. Adalah jauh lebih penting menyisihkan uang untuk zakat dan sedekah bagi kaum dhuafa ketimbang memesan makanan yang berlebihan atau membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan.

Marilah kita menunaikan ibadah puasa dengan senantiasa mengendalikan diri dari hawa nafsu. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1428 H.

*) Penulis adalah konsultan keuangan keluarga muslim

Selasa, 05 April 2011

EVALUASI FINANCIAL KLINIC IFPC EXPO

Alhamdulillah Independent Financial Planner Expo yang berlangsung tgl 26 Maret lalu berjalan lancar dan jumlah peserta cukup membludak dan memenuhi Assembly Hall Bapindo Plaza. Dan seharian itu Kurnia Consulting alhamdulillah bisa berpartisipasi dalam sesi free financial clinic kepada puluhan peserta.
Mudah2an acara yang insya Allah menjadi agenda rutin tahunan dan akan berlangsung di beberapa kota dapat memberikan manfaat bagi pesertanya. Amiin
Pada kesempatan ini saya ingin sharing tentang sesi financial clinic ni
apa saja sih permasalahan orang-orang or evaluasi buat peserta yang ikut sesi financial clinic. Kali ini saya sharing problem mrk aja dulu ya nanti lain kali kita sharing pemecahannya .

Hasil evaluasi buat peserta yang ikut sesi financial clinic Kurnia Consulting :
1. Tidak memiliki tujuan keuangan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang sehingga tidak memiliki perencanaan investasi yang jelas
2. tidak memiliki tabungan dana darurat, umumnya tabungan sebagian besar memiliki tetapi belum ada yang dialokasikan untuk dana darurat
3. Tidak memiliki asuransi kesehatan dan sudah merasa cukup dengan fasilitas askes dari kantornya padahal mrk tidak mengetahui detil apa kebutuhan asuransi nya sudah memadai.
4. Karena tidak memiliki rencana investasi maka sisa cashflow bulanan tidak teralokasikan dengan baik sehingga habis sia-sia tidak jelas
5. Lajang banyak juga yang memiliki asuransi jiwa padahal belum memiliki tanggungan yang harus dicover resiko jika terjadi musibah
6. Banyak yang memiliki asuransi jiwa tetapi tidak tahu apakah Uang Pertanggungan cukup atau tidak bahkan banyak yang tidak tahu berapa nilai UP yang didapat jika terjadi musibah
7. rasio likuiditas keuangan terlalu tinggi banyak yang menyimpan di kas tetapi sedikit di investasikan
8. Asuransi digabungkan dengan investasi jadi beban bulanan cukup besar tetapi tidak diketahui coverage resiko maupun nilai investasinya berapa.. dan mereka tidak pernah melakukan evaluasii
9. Tidak memiliki perencanaan dana pendidikan anak
10. Tidak memiliki perencanaan pensiun dan menyerahkan nasibnya pada pensiun plan dari kantornya
11. penghasilan naik tetapi tidak memiliki tabungan karena tidak pernah mengalokasikan khusus untuk ditabungkan
12. Belum memiliki tujuan keuangan mana yang prioritas dan yang realistis untuk diupayakan..kalaupun memiliki tujuan keuangan terlalu muluk dan ingin dipenuhi semuanya dalam jangka pendek.

Ok apa lagi ya... kayaknya segitu dulu ya evaluasinya... nanti dilanjut lagi. Bagaimana pemecahan dari problem di atas tar kita bahas satu persatu ya
Teria kasih
So hidup terencana akan lebih bermakna, rencanakan keuangan Anda


Wassalam

Sri Khurniatun
Managing Partner Kurnia Consulting
Penulis Buku Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang

Senin, 03 Januari 2011

Resolusi Keuangan 2011

RESOLUSI KEUANGAN 2011

Oleh : Sri Khurniatun, MM, RFA*)

Tanpa terasa kita sudah memasuki tahun 1432 H/2011 M. Banyak pengamat ekonomi memprediksi tahun 2011 lebih baik daripada tahun lalu. Kita tentunya berharap demikian dan apapun prediksi ekonomi negara yang jelas kita harus selalu mengoptimalkan produktifitas dan karya .
Ada baiknya di tahun baru ini kita sejenak menengok ke belakang atau melakukan refleksi dan muhasabah. Hasil dari evaluasi akhir tahun adalah sebuah resolusi awal tahun : sebuah komitmen untuk menjalankan sebuah perilaku atau gaya hidup yang lebih baik.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “ (QS Al Hasyr : 18).
Apa pentingnya menyusun resolusi di awal tahun? Tentu saja banyak. Diantaranya dengan menyusun target maka kita akan fokus untuk mencapainya. Orang yang merencanakan hidupnya dan memiliki tujuan akan lebih terarah dibandingkan dengan orang yang hanya mengikuti arus. Tentunya asalkan dijalankan dengan konsisten dan realistis dalam menyusunnya.

Baik, kali ini saya akan mengajak Anda bersama-sama menyusun resolusi keuangan di tahun 2011. Resolusi ini diharapkan akan menumbuhkan kebiasaan yang baik dan membuang kebiasaan yang buruk dalam memperlakukan uang yang kita miliki. Ada beberapa hal yang kita tetapkan dalam resolusi tahun baru ini.

Pertama, kebiasaan berbelanja. Poin ini memang sulit untuk dilakukan apalagi bila selama ini Anda tergolong boros dan tidak pernah memiliki perencanaan dalam belanja. Bila kita tidak komit untuk mengubah perilaku ini maka akan terjebak dalam kesulitan yang lebih dalam. Maka sudah saatnya kita belanja bijak dengan membeli apa yang dibutuhkan dan menghindari keinginan yang tidak perlu. Panda-pandai juga memilih tempat belanja yang murah dan buatlah budget dalam belanja. Jangan lupa belanja sebatas apa yang dianggarkan dan usahakan catatlah setiap pengeluaran.

Kedua, lebih berhati-hati dengan hutang. Meskipun tawaran kemudahan berhutang banyak sekali tidak lantas mudah mengambil hutang baru. Cicilan hutang tidak boleh lebih dari 30 % penghasilan. Pilih hutang yang produktif untuk membeli barang yang mengalami potensi kenaikan harga. Bagaimana jika butuh barang konsumtif tetapi tidak mampu membelinya? Lebih baik menabung dulu dan menunda pembelian sampai uangnya cukup. Toh tidak terlalu penting dan mendesak harus ada saat ini. Bagi yang punya hutang segeralah dilunasi dan hindari hutang yang mengandung riba. Bayarlah hutang tepat waktu agar kredibilitas Anda sebagai peminjam tetap baik.

Ketiga, tentukan tujuan keuangan. Memiliki perencanaan dalam hidup akan jauh lebih bermakna daripada tidak sama sekali. Sudahkah Anda membuat tujuan keuangan yang ingin dicapai di tahun 2011? Tujuan keuangan hendaklah spesifik dan terukur serta realistis. Banyak teman yang segan menyusun tujuan keuangan karena merasa tidak pernah berhasil mencapainya. Menurut saya beliau tidak memiliki keyakinan yang kuat dan mungkin saja tujuan keuangannya tidak terukur dan tidak realistis. Bagi saya memiliki tujuan keuangan justru memudahkan kita untuk menyusun perencanaan berapa uang yang harus kita tabung dan investasikan untuk mencapainya.
Bagi yang belum memiliki tujuan keuangan mulailah menyusun dari sekarang karena momennya pas di awal tahun. Mulailah dari tujuan keuangan jangka pendek ( 1 tahun ke depan atau sepanjang tahun 2011) atau tujuan keuangan jangka panjang (3 atau 5 tahun ke depan). Jangka pendek bisa dilakukan dengan menabung di bank untuk mencapainya. Sementara jangka panjang bisa berinvestasi pada produk yang potensi imbal hasilnya lebih bagus dalam jangka panjang seperti emas, reksadana syariah atau saham syariah. Tujuan keuangan apa saja yang harus dimiliki keluarga? Prioritas adalah memiliki dana darurat, pendidikan anak, pensiun, naik haji/umroh, beli rumah, kendaraan, liburan, dan lain-lain. Bila Anda ingin minta bantuan untuk menghitung kebutuhan investasinya, silakan berkonsultasi dengan perencana keuangan.

Keempat, miliki proteksi. Anda perlu memiliki dana darurat untuk berjaga-jaga jika terjadi musibah. Minimal siapkan dana darurat sebesar 3 bulan pengeluaran untuk dana cadangan. Selain itu untuk mengcover resiko sakit lebih efisien jika membeli asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga, dan asuransi jiwa untuk kepala keluarga.

Kelima, lakukan financial check up rutin. Tiap tahun lakukan perhitungan terhadap per tumbuhan asset yang Anda miliki. Apakah kekayaan Anda positif artinya asset lebih besar dibandingkan dengan hutang ataukah justru negatif artinya lebih besar porsi hutang dibandingkan harta. Bila Anda ingin meningkatkan kekayaan sudah saatnya mengurangi hutang konsumtif dan memperbanyak asset produktif. Financial check up ini penting untuk mengetahui kondisi keuangan saat ini terutama untuk mengetahui kesehatan keuangan Anda. Ada banyak hal yang harus di check up yaitu pertumbuhan asset, penghasilan, pengeluaran, dana cadangan, hutang, kondisi investasi, dan lain-lain. Financial check up ini perlu dilakukan rutin sebagai evaluasi terhadap kondisi keuangan Anda. Dengan melakukan ini kita dapat mengatur strategi untuk memperbaiki kondisi keuangan kita. Ini mendukung untuk mencapai perencanaan keuangan lebih tepat.

Keenam, mencari penghasilan tambahan. Ini bertujuan agar penghasilan Anda lebih baik dari tahun sebelumnya. Tantangan hidup ke depan makin sulit dimana kebutuhan hidup semakin meningkat dan harga-harga juga tambah melambung. Maka kita harus mencari sumber sumber income tambahan. Anda harus kreatif dan lebih produktif. Manfaatkan hobi Anda dan update terus keahlian yang bisa dijual. Misalnya hobi fotografi. Anda bisa menawarkan diri menjadi fotografer media, atau hobi menulis bisa menyusun buku, dll. Dengan melakukan hal-hal yang Anda sukai segala sesuatu terasa lebih ringan dan menyenangkan. Insya Allah juga bisa menambah pundi-pundi finansial Anda.
Bagaimana dengan Anda? Semoga tahun 2011 ini merupakan momentum Anda untuk meraih kehidupan keuangan yang lebih baik. Ingat hikmah dari firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib manusia, kecuali mereka mengubah dirinya sendiri,” (QS Ar Raad : 11).

Yang penting lakukan mulai dari yang kita bisa dulu sambil terus meningkatkan ilmu dan ikhtiar kita. Insya Alllah berbuah manfaat dan keberkahan hidup. Orang yang terus memperbaiki diri adalah tergolong orang-orang yang beruntung. Amin !

*) Penulis adalah perencana keuangan syariah, Managing Partner Kurnia Consulting dan pengarang buku Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang. Hampir sebagian besar content tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pengusaha Muslim Edisi 2 bulan Pebruari 2010.

Kamis, 08 Juli 2010

MENGHADAPI KENAIKAN HARGA

Pertanyaan :
Salam kenal Ibu Sri,
Langsung saja, saya seorang ibu rumah tangga yang berbisnis makanan kecil-kecilan di rumah dan menerima pesanan. Hasilnya lumayan bisa menambah belanja dapur. Suami bekerja sebagai PNS dan tidak mempunyai penghasilan sampingan. Anak kami 3 orang. Beban hidup kami bertambah berat menghadapi kenaikan harga sembako di bulan ini. Boro-boro menabung buat belanja sehari-hari juga belum tentu cukup. Harga bahan baku dagangan juga naik jadi saya kepikiran buat menaikkan harga jualan tetapi takut kalau dagangan tidak laku. Adakah kiat-kiat dari Ibu untuk mengatasi permasalahan ini?

Annisa H
Jakarta Selatan

Jawaban :

Halo Ibu Annisa, senang sekali berkenalan dengan Anda.

Kita semua prihatin dengan kenaikan harga barang yang terjadi akibat harga sembako akibat kenaikan tariff dasar listrik yang naik mencapai 40 % - 50 % di bulan ini. Tetapi kita tidak boleh mengeluh dan meratapi kondisi ini. Kita harus hadapi kenyataan ini dengan tenang dengan mencari solusi terbaik dan terus meningkatkan kecerdasan finansial. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menyiasati kenaikan harga sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan kita dengan baik, antara lain :

1. Susunlah anggaran belanja bulanan

Anggaran bulanan membuat kita lebih terkendali dalam mengatur pengeluaran. Setiap awal bulan catatlah semua pengeluaran yang akan dilakukan. Tentu saja besar pengeluaran harus disesuaikan dengan penghasilan yang diterima. Kemudian patuhi anggaran tersebut.

2. Buatlah perencanaan keuangan dengan matang

Perencanaan keuangan ini penting agar setiap kebutuhan di masa depan sudah diperhitungkan sebelumnya dengan mempertimbangan kenaikan harga atau inflasi yang terjadi. Contohnya bila Anda tahun depan akan menyekolahkan anak Anda ke SMA dan butuh Uang Pangkal 5 juta rupiah , dan dengan asumsi kenaikan harga tahun depan 10 %, maka Uang Pangkal yang harus disiapkan menjadi 5 juta rupiah + 10 % X 5 juta = 5.500.000 rupiah. Lakukan setiap kebutuhan Anda di masa depan dengan perhitungan seperti ini sehingga kita lebih siap untuk menghadapi kenaikan harga dengan merencanakan sebelumnya.

3. Lakukan investasi pada produk yang bisa mengimbangi tingkat inflasi
Jaman sulit begini apa memungkinkan untuk investasi? Tetap perlu bu. Investasi tetap jalan biarpun pada kondisi apapun. Kita tidak tahu apakah di masa depan kondisi akan lebih sulit lagi. Sisihkan minimal 10 % penghasilan di depan begitu kita terima dan investasikan pada produk keuangan yang hasilnya bisa mengimbangi kenaikan harga. Contohnya : emas dan reksadana. Biasanya emas harganya hampir selalu naik kalau terjadi kenaikan harga barang. Emas yang cocok buat investasi adalah emas batangan atau emas koin. Reksadana adalah produk investasi yang dilakukan bersama-sama. Caranya adalah kita menyetor sejumlah dana pada lembaga yang bernama manajer investasi kemudian dana kita bersama investor lain diinvestasikan ke berbagai produk investasi seperti saham, obligasi, deposito,dll.

4. Bijak dalam pengeluaran
Lakukan evaluasi setiap pengeluaran yang dilakukan. Lihatlah komponen mana yang bisa dihemat. Berpikir ulang dahulu setiap melakukan pembelian. Prioritas belanja yang diperlukan dahulu. Carilah tempat belanja yang lebih murah. Usahakan jangan terlalu sering pergi ke pusat perbelanjaan. Bila akan berbelanja buatlah catatan terlebih dahulu sesuai anggaran yang disusun. Hemat pemakaian listrik dan telepon, dan rawatlah barang-barang di rumah dengan baik sehingga tidak cepat rusak.

5. Mencari penghasilan tambahan
Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi maka tindakan realistis adalah terus berikhtiar untuk mencari penghasilan tambahan. Untuk yang ini Bu Anissa sudah terbiasa berdagang. Tetapi mungkin belum optimal untuk memasarkan dalam skala lebih luas lagi misalnya tidak hanya dagang di rumah dan tunggu pesanan, tetapi tawarkan ke perkantoran, klub arisan, pengajian, dll. Ibu harus aktif dalam berbagai komunitas sehngga orang akan mengenal makanan buatan Ibu. Upaya lain misalnya libatkan anggota keluarga untuk aktif mencari penghasilan tambahan ini. Potensi suami di luar jam kerja bisa digunakan, tidak ada salahnya melibatkan anak berjualan agar mengasah kecerdasan finansial sejak dini.

Kemudian untuk memutuskan harga dagangan Ibu dinaikkan atau tidak lakukan perhitungan dengan detil. Hitung kembali besarnya tambahan biaya produksi akibat ada kenaikan harga. Usahakan cari cara lain dibanding menaikkan harga agar tidak memberatkan konsumen, misalnya dengan mencari pengganti bahan baku yang lebih murah, atau dengan ukuran yang lebih kecil. Komunikasikan pada konsumen perihal ini dan ketika terpaksa menaikkan harga minta pertimbangan pada konsumen agar tidak memberatkan.
Demikian Ibu Annisa , semoga bisa membantu.

Jumat, 02 Juli 2010

Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Pembaca blog, ini tulisan saya yang dimuat di eramuslim.com.
Semoga bermanfaat


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam kenal Bu Sri,

Saya seorang calon ibu yang sedang mengandung anak pertama. Saya ingin memberikan masa depan yang baik untuk anak saya nantinya dengan memberikan pendidikan yang terbaik. Untuk itu saya ingin mempersiapkan dana pendidikannya. Pertanyaan saya :

1. Kapan waktu yang tepat untuk mempersiapkan dana pendidikan buat anak apakah pas mengandung atau nanti setelah melahirkan,
2. Bagaimana langkah-langkah untuk menyiapkan dana pendidikan anak,
3. Apa investasi yang tepat buat persiapan dana pendidikan anak saya? Terima kasih atas jawaban yang diberikan.

Riyanti – Sidoarjo, Jawa Timur
Jawaban

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Salam kenal kembali Ibu Riyanti,

Keputusan Anda untuk mempersiapkan dana pendidikan anak secara dini sangat tepat. Semakin panjang jangka waktu persiapannya akan memperingan Anda karena beban investasi lebih ringan. Apalagi data menunjukkan bahwa biaya pendidikan setiap tahun mengalami kenaikan yang melebihi inflasi. Sebagai gambaran jika inflasi di negara kita 6–7 % maka biaya pendidikan bisa naik 10–20%. Apalagi pada sekolah unggulan/favorit yang untuk mendaftarpun bisa waiting list maka kenaikan biaya bisa lebih besar lagi. Waktu yang tepat buat mempersiapkan dana pendidikan anak tidak ada patokan yang baku. Anda bisa mempersiapkan sejak mengandung atau sesudah melahirkan. Intinya semakin cepat akan semakin baik dan ringan untuk berinvestasi.

Kemudian ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam perencanaan dana pendidikan antara lain :

1. Tentukan kapan dana dibutuhkan. Jika Anda sedang mengandung anak pertama maka dana untuk masuk TK dibutuhkan 5 tahun lagi. Dengan demikian waktu Anda berinvestasi untuk dana pendidikan TK selama 5 tahun.
2. Cari informasi dana pendidikan untuk anak Anda saat ini. Misalnya untuk TK tentukan standar sekolah yang diinginkan dan informasi keseluruhan biaya yang dibutuhkan, mulai dari uang pangkal, seragam, buku-buku, dan biaya extrakurikuler.
3. Kalikan dengan asumsi kenaikan biaya pendidikan per tahun hingga anak Anda masuk sekolah. Contohnya biaya pendidikan TK besarnya 5 juta, dengan asumsi kenaikan per tahun 10 %, maka dana yang dibutuhkan 5 tahun lagi sebesar = Rp 5 juta X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 = 8.857.085
4. Tentukan dana yang perlu ditabung per tahun atau perbulan. Untuk mengetahuinya perlu dicari asumsi imbal hasil dari investasi yang Anda lakukan. Maka dapat ditentukan tabungan per tahun atau per bulan. Semakin tinggi imbal hasil yang diharapkan maka tabungan semakin kecil.
5. Pilihlah produk investasi yang memberikan imbal hasil yang diharapkan, ada beberapa alternatif instrumen investasi yang dipilih dalam mempersiapkan dana pendidikan anak, antara lain :

1. Tabungan di Bank

Umumnya kebanyakan orang tua masih menggunakan cara menabung di bank dalam mempersiapkan dana pendidikan. Kelebihannya uang yang disimpan aman, hasilnya pasti. Kekurangannya memberikan bagi hasil yang rendah dan bila orang tua sebagai penabung meninggal dunia maka tabungan dana pendidikan akan terhenti. Tetapi untuk hal ini jangan khawatir karena saat ini produk tabungan pendidikan biasanya sudah ditambahkan manfaat asuransi jiwa. Jadi jika si penabung meninggal dunia maka setoran tabungan akan diteruskan oleh perusahaan asuransi hingga dananya tetap tersedia. Biasanya produk tabungan pendidikan ini tidak bisa diambil sebelum jatuh tempo yaitu saat anak masuk sekolah.

2. Deposito Bank

Deposito bisa dilakukan bila Anda ingin melakukan investasi sekaligus di depan dan tidak disetor bulanan. Atau bisa dilakukan dengan setoran tabungan per bulan sampai jumlahnya mencapai yang disyaratkan bank untuk membuka deposito, tiap bank berbeda-beda tetapi umumnya di atas Rp 1 juta rupiah, barulah rekening dipindahkan ke deposito. Deposito umumnya memberikan bagi hasil lebih tinggi dari tabungan, aman, dan terjamin. Tetapi umumnya masih memberikan imbal hasil rendah sehingga perlu waktu lebih lama atau dana lebih besar agar dananya bisa mencukupi.
3. Asuransi Pendidikan

Cara kerjanya adalah Anda membayar sejumlah premi sekaligus atau berkala pada perusahaan asuransi. Selanjutnya orang tua akan mendapatkan dana pendidikan yang disesuaikan dengan tahapan masuk sekolah anak. Kelebihan asuransi pendidikan bila dana setoran terhenti karena penabung meninggal dunia maka perusahaan asuransi akan menjamin dana pendidikan tetap diberikan. Kekurangannya biasanya imbal hasil yang ditawarkan kecil, sehingga perlu dana lebih besar agar sesuai dengan kebutuhan dananya.

4. Emas

Berinvestasi dengan emas juga bisa menjadi alternatif karena harga emas biasanya mengalami kenaikan yang seimbang dengan inflasi. Emas juga bisa diterima di mana-mana. Kekurangannya butuh penyimpanan yang aman, dan harganya memang naik tetapi hanya mengimbangi inflasi sehingga belum memberikan imbal hasil yang memadai.


5. Reksadana

Merupakan investasi yang dilakukan secara berjamaah dengan menggabungkan seluruh uang investor dalam satu wadah yang dikelola manajer investasi. Biasanya oleh manajer investasi uang akan diinvestasikan pada produk keuangan seperti deposito, saham dan obligasi. Kelebihan biasanya memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada produk keuangan lainnya karena dikelola manajer investasi dan investasi pada produk yang memiliki keuntungan lebih tinggi. Kekurangannya sebagaimana kaidah yang berlaku dalam investasi, makin besar potensi untung resiko juga tinggi karena nilai reksadana bisa turun sehingga mengurangi jumlah uang yang diinvestasikan.

6. Tanah atau properti

Ini bisa dilakukan bila jangka waktu persiapan dana pendidikan masih cukup panjang misalnya lebih dari 10 tahun. Properti dan tanah memang kenaikan harganya cukup tinggi diatas nilai inflasi, tetapi perlu dana investasi yang besar untuk membelinya dan properti/tanah dananya tidak mudah dicairkan dalam waktu cepat.

Demikian Ibu Riyanti, semoga bisa membantu.

Selamat mempersiapkan dana pendidikan anak Anda.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Sri Khurniatun, MM, RFA
Managing Director Kurnia Consulting
dan Penulis Buku Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang.