Senin, 08 Maret 2010

Jadilah Perempuan Cerdas Finansial

Setiap rumah tangga muslim umumnya memiliki prinsip dasar dalam manajemen rumah tangga dimana suami berkewajiban mencari nafkah dan istri bertanggung jawab dalam mengatur urusan rumah tangga termasuk mengelola keuangan. Umumnya kendali keuangan rumah tangga tetap ditangan perempuan meskipun perempuan tersebut notabene pegawai atau pebisnis yang mampu menghasilkan uang.

Tanggung jawab perempuan yang besar menuntut perempuan harus piawai dalam mengelola keuangan rumah tangganya. Maka sederetan persyaratan yang tidak ringan mutlak dipenuhi agar perempuan memiliki kualitas tinggi bidang pengelolaan uang, seperti perempuan tidak boleh boros, cerdas dalam pengeluaran, mampu membantu suami mendapatkan penghasilan, bisa menabung dan berinvestasi, serta mampu memberikan ilmu kecerdasan finansial pada anak. Apalagi sudah menjadi anggapan umum dimasyarakat kalau rumah tangga yang gagal mengelola uang karena tabiat ibu yang pemboros dan tidak becus mengatur uang. Meskipun hal ini tidak sepenuhnya benar tetapi kita sebagai kaum perempuan mesti mewaspadainya.

Kita semua paham bahwa semua tanggung jawab ini jika dijalankan dengan totalitas dan penuh pengabdian akan berbuah manis. Siapa sih yang tidak ingin masa depan keluarganya terencana dengan baik? Tentunya hal ini menuntut pengorbanan sang ibu dan insya Allah berbuah pahala juga nantinya.

Lalu kemampuan apa saja sih yang harus dimiliki perempuan agar dikatakan cerdas secara finansial?

1. Mampu mengatur pengeluaran secara bijak

Saat ini banyak rumah tangga yang gagal merencanakan masa depan karena tidak mampu menyisihkan tabungan. Bukan karena pendapatan yang rendah tetapi karena tidak bisa mengelola penghasilan dengan baik. Besarnya pengeluaran yang banyak umumnya karena tidak bisa membedakan antara ”kebutuhan” dan ”keinginan”. Gaya hidup yang konsumtif saat ini dipicu iklan berlebihan, yang disodorkan media massa tiap detik, sehingga memerlukan kendali diri yang kuat dari perempuan sebagai manajer keuangan. Rumus paling jitu harus selalu diterapkan : jangan pernah lebih besar pasak daripada tiang! Aturlah pengeluaran agar selalu lebih kecil dari pemasukan sehingga sebagian bisa ditabung. Prioritaskan membeli barang yang dibutuhkan, jangan belanja karena iklan dan diskon, serta gunakan daftar belanja dan patuhi.

2. Mampu menyusun anggaran rumah tangga

Ada baiknya jika pengelolaan keuangan rumah tangga sama seperti mengelola perusahaan. Agar dapat mengefisienkan penghasilan yang diperoleh maka setiap ibu rumah tangga dituntut mampu menyusun anggaran. Anggaran disusun berdasarkan periode penerimaan penghasilan bisa mingguan atau bulanan. Umumnya disusun berdasarkan bulanan. Catat semua pengeluaran rutin bulanan, dan buatlah anggaran pengeluaran yang lebih kecil dari penghasilan. Setelah itu patuhi dengan berbelanja hanya sebesar jumlah yang dianggarkan. Kita akan terhindar dari defisit, pemborosan, dan memungkinkan untuk surplus sehingga bisa menabung dan berinvestasi

3. Mampu menabung dan berinvestasi

Perempuan dianggap lebih cermat dalam mengelola uang sehingga lebih mudah menabung. Pada kenyataannya sebagian besar perenpuan masih sulit menabung dengan macam-macam alasan seperti penghasilan yang kurang, banyak pengeluaran mendadak, dll. Padahal tidak harus menunggu penghasilan besar baru menabung karena semakin besar penghasilan toh pengeluaran juga bertambah. Makanya ubah paradigma menabung dengan cara jadikan menabung sebagai pengeluaran rutin dan masukkan dalam anggaran bulanan. Menabunglah diawal bulan minimal 10 % dari penghasilan sebelum terpakai untuk keperluan lain. Usahakan tidak menunda menabung dan meskipun sedikit asal rutin. Kemudian kenalilah produk-produk investasi selain tabungan dan deposito agar bisa mendapatkan hasil lebih optimal.

4. Mampu mencari penghasilan tambahan

Memang tanggung jawab mencari nafkah ditangan suami tetapi tidak ada salahnya bila perempuan ikut membantu mendapatkan penghasilan tambahan. Hal ini penting untuk meminimalisir resiko yang terjadi bila suami tertimpa musibah seperti PHK, sakit, dll. Dan tentu saja dengan penghasilan bertambah maka tingkat kesejahteraan keluarga akan lebih baik. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan kaum perempuan dalam mendapatkan penghasilan seperti bekerja pada orang lain sebagai karyawan, bekerja mandiri dengan mengandalkan keahlian seperti mengajar, menulis buku, menjahit, dll. Atau membuka usaha warung, toko, biro jasa dll. Selain itu bisa juga menjadi investor dengan membeli produk investasi seperti emas, deposito, reksadana,dll. Bisa juga menanamkan modal pada usaha orang lain. Untuk itu kenalilah potensi masing-masing, dan yang penting dengan modal kemauan dan ikhtiar yang kuat maka penghasilan tambahan bisa diwujudkan.

5. Menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya

Kemampuan ini cukup penting dimiliki kaum perempuan karena sebelum mengajarkan tentang kecerdasan finansial pada anak jadikan dirinya sebagai teladan dulu dalam mengelola uang. Teori tentang penghematan tidak akan diterapkan oleh anak jika sang ibu mudah tergoda untuk belanja, mengoptimalkan potensi anak juga tidak berjalan jika ibunya lebih banyak menganggur di rumah. Oleh karena itu selain pengetahuan yang dalam tentang seluk-beluk keuangan rumah tangga, seorang ibu harus dibekali dengan praktek dan contoh nyata sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Memang tidak mudah menjadi perempuan yang cerdas secara finansial. Namun bila 5 kemampuan di atas diupayakan secara optimal hasilnya dapat dirasakan dalam kurun waktu yang panjang dan bisa diwariskan pada generasi selanjutnya. Insya Allah berkah dan bermanfaat. Wallahu’alam bissawab.

*) Penulis adalah konsultan keuangan keluarga muslim, Owner Kurnia Consulting

Kamis, 04 Februari 2010

Berinvestasi di sukuk ritel syariah

Rekan-rekan pembaca blog, kali ini saya akan menulis tentang sukuk ritel. Semoga bermanfaat.

Sukuk ritel adalah surat berharga yang diterbitkan pemerintah berdasarkan prinsip syariah, dan dijual kepada individu atau perorangan melalui agen penjual, dengan jumlah pembelian minimum Rp 5.000.000 dengan jangka waktu investasi 3 tahun. Sukuk ritel yang pertama yaitu seri 001 terbit pada tahun 2008 dan langsung habis di pasaran karena imbal hasil yang ditawarkan sangat menarik yaitu sebesar 12 %/tahun. Ini jauh lebih menarik dibanding deposito yang waktu itu hanya berkisar 7 – 8 %/tahun. Sementara untuk sukuk ritel seri 002 imbal hasil yang ditawarkan memang lebih rendah dari seri pertama dulu yaitu sebesar 8,7 %. Tetapi ini tetap lebih tinggi dari bunga deposito dimana saat ini hanya sekitar 6,5 %.

Keuntungan berinvestasi di sukuk ritel sudah jelas aman karena pembayaran pokok dan imbalan kupon sampai dengan jatuh tempo dijamin oleh negara, menguntungkan karena imbalan/kupon lebih tinggi daripada bunga deposito dimana untuk sukuk ritel yang sekarang terbit 8,7 %/tahun, dan angka ini tetap sampai dengan saat jatuh tempo dan dibayar tiap bulan atau 12 kali dalam setahun. Selain itu penerbitannya sesuai dengan prinsip syariah dan telah mendapatkan fatwa serta opini syariah dari Dewan Syariah Nasional – MUI. Membeli sukuk juga salah satu cara untuk berpartisipasi dalam pembangunan negeri karena pemerintah memang menerbitkan sukuk guna keperluan membiayai pembangunan.

Selain sukuk sebelumnya pernah terbit ORI (Obligasi Ritel Indonesia) yang diterbitkan juga oleh pemerintah, dan saat ini sampai seri 006 dan diterbitkan hampir tiap tahun. Tetapi bedanya produk ini memberikan kupon sebagai imbal hasil yang berbasis bunga, jadi tidak menggunakan skema syariah.

Lalu benarkah sukuk ritel ini tidak ada resikonya? Tidak ada produk investasi yang kebal resiko. Yang jelas resiko gagal bayar dari sukuk ritel ini memang tidak ada karena pokok dan imbalan/kupon dijamin pemerintah. Tetapi ada resiko yang tetap melekat pada produk ini yaitu resiko pasar yaitu terjadi bila harga jual sukuk ritel lebih rendah dibanding harga pembelian. Ini dihindari dengan tidak menjual sukuk pada saat jatuh tempo atau Anda jual pada saat harga pasar sedang tinggi. Resiko lain adalah resiko likuiditas yaitu dapat terjadi jika investor memerlukan dana tunai dan kesulitan untuk menjual pada harga pasar yang wajar.

Bagaimana cara mendapatkan sukuk ritel? Prosedur pembelian maupun penjualan sukuk ritel ini cukup mudah. Bila Anda memiliki dana minimal Rp 5 juta , maka bisa memesan sukuk ritel seri 002 melalui agen penjual yang ditetapkan pemerintah. Sebagian besar Bank milik pemerintah menjadi agen penjual sukuk, selain beberapa bank swasta dan manajer investasi.

Untuk sukuk ritel seri SR-001 sudah habis terjual untuk pasar perdana. Bila Anda berminat membelinya juga bisa didapatkan pada pasar sekunde atau istilah lain pasar seken. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli sukuk di pasar sekunder lebih mahal dibandingkan pasar perdana karena harga sukuk dipasar sekunder tergantung mekanisme pasar atau kekuatan permintaan dan penawaran. Tetapi dengan semakin menurunnya BI rate ada kecenderungan harga sukuk akan semakin meningkat maka meskipun Anda membeli sukuk di pasar sekunder masih memungkinkan untuk mendapatkan capital gain (selish harga) bila sukuk ini dijual kembali, selain Anda mendapatkan imbalan/kupon per bulannya.

Lalu apakah sukuk ritel bisa dicairkan kapan saja? Sama halnya produk keuangan lainnya seperti reksadana, sukuk ritel ini bisa diperjual belikan di pasar sekunder. Bila setiap saat Anda memerlukan dana bisa dijual di pasar sekunder melalui agen penjual dimana Anda pernah membelinya. Untuk menjual di pasar sekunder tentunya Anda harus mengamati berapa harga jualnya supaya Anda tidak mengalami capital loss (kerugian karena harga jual lebih rendah daripada harga beli).

Ok, bagi Anda yang mo investasi menguntungkan, silakan hubungi agen penjual di sekitar Anda.
Selamat berinvestasi, semoga berkah dan menguntungkan

Selasa, 19 Januari 2010

Kalau Mau jadi Entrepreneur, Harus Ngerti Laporan Keuangan!

Ini Copas dari blognya temen di komunitas TDA. Semoga bermanfaat

Kalau mau jadi entrepreneur yang berhasil, kita harus ngerti laporan keuangan! Ah masa sih? Saya dengar anda berkata. Ya! Anda harus ngerti laporan keuangan! Ini ilmu penting!

Coba bayangkan sebuah keluarga..yang terdiri dari 1 Ayah, 1 Ibu dan 1 anak. Bayangkan si Ayah bekerja, sementara si Ibu tidak. Si Ayah setiap gajian memberi uangnya ke istrinya untuk kebutuhan rumahtangganya. Si Ibu mengeluarkan uang setiap keluarganya butuh. Kadang2 untuk belanja dapur, kadang2 untuk dia sendiri, kadang2 kalau anaknya minta sesuatu dibelikan sama si Ibu, kadang2 bareng si Ayah kalau pergi makan di luar. Eh gak sampai 2 minggu, uangnya sudah habis. Sementara si Ayah, gajian masih 2 minggu lagi.

Pertama, kalau si ibu gak menyimpan bukti2 kwitansi atau gak punya pencatatan tanggal berapa belanja apa, tanggal berapa belanja apa lagi. Wah gak akan ke 'trace' kemana saja tuh uang menghilang. Kecuali kalau punya ingatan yang super. Pencatatan atau laporan keuangan itu seperti cerita. Dari situ kita tahu, oh ternyata 2 hari setelah gajian..ada tagihan telpon yang rutin dibayar. Oh terus tagihan bulan ini kenapa ya besar? Oh ternyata setelah dilihat, karena si Ayah banyak dinas keluar kota. Jadi si Ibu sering nelp Ayahnya. Oh ternyata, si anak setiap tanggal sekian bayar uang les privatnya yang bayarnya 3 bulan sekali. Ternyata juga bulan ini ada acara2 ulang tahun tiga orang temannya si anak. Si ibu en anak beliin hadiah buat mereka. Makanya bulan ini pengeluarannya lumayan besar. Jadi, kalau udah punya pencatatan dan laporan keuangan, kita bisa tahu 'cerita'nya. Dan dari 'cerita' ini kita bisa menganalisa penyebabnya. Dan membuat perubahan kalau perlu.

Yang kedua, kalau kita gak punya pencatatan, atau laporan, kita gak akan bisa membuat budgeting atau perencanaan untuk masa depan keluarga kita. Misalnya kita pengen nih beli rumah, tapi kalau gak tahu berapa uang yang bisa kita sisihkan untuk cicilan hutang..ya repot juga. Kalau kita pengen merencanakan dana pendidikan anak, kita juga perlu tahu berapa uang yang bisa kita tabung. Dan itu bisa kita ketahui dari laporan keuangan kita. Kalau kita punya laporan keuangan, kita bisa mengira2 bulan depan berapa nih uang yang diperlukan untuk belanja dapur. Berapa yang diperlukan untuk kebutuhan sekolah, dll.

Keuangan itu jantungnya bisnis kita. Kalau kita tidak bisa mengelola keuangan usaha kita dengan baik. Ya kasarnya siap2 aja menunggu kematiannya. Wuih! Takut euy. Seperti halnya keluarga diatas, bisnis kita butuh laporan keuangan. Dari situ kita bisa baca 'cerita'nya, kinerja bisnis kita sperti apa. Kita mengelolanya udah baik belum. Kita bisa baca laporan keuangan dan membuat keputusan untuk masa depan bisnis kita. Kalau ngerti laporan keuangan kita juga bisa tahu apa kita dibohongin sama staff keuangan kita. Terus serunya lagi, kita bisa 'baca' bisnis orang lain. Apakah bisnis tersebut menguntungkan atau tidak untuk kita ikut serta berinvestasi.

Saya tahu beberapa bisnis yang mungkin orang melihatnya waahh kayaknya berkembang pesat...tapi ternyata beberapa tahun udah tutup. Salah satunya karena mereka gak punya pencatatan dan laporan keuangan. Seandainya usaha mereka punya laporan keuangan, mereka bisa 'baca' usaha mereka. Kenapa koq tiba2 ada yang mandeg. Kenapa koq gak ada kas yang dipegang sama sekali untuk operasional. Misalnya omzet Rp.50juta/bulan, tapi bingung koq di akhir bulan yang ada di kas cuman Rp.1jt. Kemana aja tuh uangnya pergi?? Itulah mengapa laporan keuangan SANGAT dibutuhkan.

Terus, did I hear you say 'you don't like accounting'??? Sama!! Saya juga dulu paling anti namanya akuntansi. Nilai akuntansi saya paling rendah daripada nilai mata pelajaran lainnya. Hahaha... saya juga dulu paling anti yang namanya hitung2an...ngeliat laba rugi, neraca aja udah pusing duluan. Disuruh ngitung pemasukan dan pengeluaran udah stress duluan..hehe..Itu duluu..karena saya gak ngerti manfaatnya laporan keuangan. Kalau sudah tahu betapa bermanfaat nih laporan keuangan, mau gak mau kita jadi belajar. Belajar dari mana saja...buku2, teman, internet, kursus.

Akuntansi itu simple koq...intinya nyatat transaksi, transaksinya dipilah2 masuk akun apa yang sesuai, terus akun2 yang sama itu dikumpulin en digabung..jadi dech laporan keuangan. Gitu aja koq!

Intinya kita harus ngerti filosofi dari laporan keuangan itu sendiri. Masalah catat mencatat gak harus kita yang mengerjakan, tapi bisa minta bantuan orang lain. Saya sendiri sedang meminta bantuan konsultan keuangan/akuntan untuk membereskan laporan2 keuangan usaha saya dari awal berdiri hingga sekarang.

Laporan keuangan itu terdiri dari apa aja sih?

1.Ada laporan laba rugi, untuk mencari tahu kita untung atau rugi selama periode tertentu. Misalnya selama 1 bulan atau 1 tahun kita untung atau rugi.

2.Ada neraca, ini potret kekayaan kita pada waktu tertentu. Misalnya pada akhir bulan atau akhir tahun, berapa sih kekayaan usaha kita? Neraca sendiri itu dibagi jadi aktiva (di kiri) dan pasiva (di kanan).

Aktiva itu kekayaan kita misalnya kas, uang di bank, aset (sperti gedung sendiri, mobil usaha, dll), piutang (piutang itu utang orang lain ke kita), dll.

Pasiva itu sumber kekayaan kita yang terdiri dari hutang dan modal. Maksudnya kekayaan bisnis kita itu didapat dari mana? Dari minjam/hutang? Atau dari uang modal kita sendiri? Contohnya kalau usaha kita adalah menjahit baju. Kita punya mesin jahit. Nah mesin itu dibelinya pake uang siapa? Dari uang kita sendiri atau minjam dari orang lain.

3. Laporan lainnya ada laporan arus kas. Laporan arus kas itu laporan uang kas yang masuk dan keluar.

4. Laporan perubahan modal/ekuitas itu laporan yang menunjukkan modal pemilik dalam suatu periode tertentu. Apakah modalnya bertambah atau malah berkurang karena diambil terus sama pemiliknya.

Ok, met membuat en membaca laporan keuangan!

Salam suksesmulia dan berkah!

Ayesha
http://ayeshananda.blogspot.com

Minggu, 03 Januari 2010

Resolusi Keuangan Tahun 2010

Tanpa terasa kita sudah memasuki penghujung tahun 2009 dan memasuki tahun 2010. Beberapa pengamat ekonomi memprediksi tahun 2010 lebih baik daripada tahun 2009, sebagian lagi mengatakan akan banyak kekacauan dalam dunia perpolitikan di Indonesia yang mempengaruhi keadaan ekonomi. Berbagai pandangan beragam mudah-mudahan tidak menghalangi kita untuk berkarya lebih baik dan tetap produktif ditengah kondisi sesulit apapun.

Salah satu kebiasaan yang perlu ditanamkan di awal tahun adalah membuat resolusi atau pencapaian yang ingin dicapai di tahun mendatang. Apa pentingnya? Tentu saja banyak diantaranya dengan menyusun target maka kita akan fokus untuk mencapainya. Apalagi bila resolusi tersebut dideklarasikan kepada orang terdekat kita akan merasa malu kalau tidak memiliki komitmen kuat untuk mencapainya. Dan jangan lupa orang yang merencanakan hidupnya dan memiliki tujuan akan lebih terarah dibandingkan dengan orang yang hanya mengikuti arus. Bukankah begitu?

Ok, sesuai dengan bidang saya adalah perencana keuangan kali ini saya akan mengajak Anda bersama-sama menyusun resolusi keuangan di tahun 2010. Dengan resolusi ini tentu saja kita akan menumbuhkan kebiasaan yang baik dan membuang kebiasaan buruk dalam memperlakukan uang yang kita miliki. Ada beberapa hal yang perlu kita soroti untuk tahun mendatang, yakni :

1. Kebiasaan mengeluarkan uang

Poin ini memang sulit untuk dilakukan apalagi bila selama ini Anda tergolong boros dan tidak memiliki perencanaan dalam belanja. Tetapi kalau kita tidak komit untuk mengubahnya akan terjebak dalam kesulitan yang lebih dalam. Maka sudah saatnya kita berbelanja lebih bijak dengan berbelanja yang dibutuhkan dan menghindari keinginan yang tidak perlu. Pandai-pandai memilih tempat belanja yang lebih murah, buatlah budget dalam belanja dan jangan lupa belanjalah sebatas apa yang dianggarkan.

2. Lebih berhati-hati dengan hutang

Meskipun tawaran kemudahan berhutang banyak sekali di depan mata kita tidak lantas kita jadi mudah pula untuk ambil hutang baru. Cicilan hutang tidak boleh lebih dari 30 % penghasilan. Pilih hutang yang baik yaitu untuk beli barang produktif atau barang yang memiliki potensi kenaikan harga. Bolehlah belanja barang elektronik seperti handphone, DVD player dengan menggunakan kartu kredit? Bagi saya itu tergolong kerugian karena bunganya yang tinggi per bulannya selain itu nilai barangnya menyusut apalagi ditambah kita harus mengeluarkan biaya tambahan ketika menggunakan barang tersebut yaitu buat beli pulsa ataupun listrik untuk DVD player. Sungguh kerugian yang berlapis-lapis. Lalu bagaimana bila tidak mampu beli barang tersebut dengan cash? Lebih baik menabung dulu sampai uangnya cukup dan menunda pembelian toh tidak terlalu penting HP baru kalau masih ada HP lama

3. Milikilah tujuan keuangan

Memiliki perencanaan dalam hidup akan jauh lebih bermakna daripada tidak sama sekali. Sudahkah Anda membuat tujuan keuangan yang ingin dicapai di tahun 2010. Tujuan keuangan ini hendaklah spesifik dan terukur, dan tentu saja realistis. Misalnya saya ingin tahun 2010 membeli laptop merk X seharga …., atau saya ingin beribadah Umroh pada bulan Ramadhan 2010 dengan biaya sebesar …. Dengan memiliki tujuan keuangan maka memudahkan kita untuk menyusun perencanaan berapa uang yang harus kita tabung dan investasikan untuk mencapainya.

Bagi yang belum punya tujuan keuangan sama sekali mulailah menyusun tujuan keuangan di awal tahun ini baik tujuan keuangan jangka pendek atau jangka panjang. Jangka pendek berarti rencana untuk tahun 2010 mendatang dan jangka panjang untuk 3 hingga 5 tahun mendatang. Jangka pendek bisa dilakukan dengan menabung atau memiliki deposito dan untuk jangka panjang bisa beinvestasi pada produk yang potensi imbal hasilnya lebih bagus seperti beli emas, reksadana, atau saham.

Tujuan keuangan yang perlu kita susun dan penting dimiliki oleh setiap keluarga adalah dana darurat, pendidikan anak, pensiun, naik haji, beli rumah, kendaraan, liburan dll. Bila Anda ingin minta bantuan untuk menghitung kebutuhan investasi dan memilih kendaraan investasinya silakan berkonsultasi dengan perencana keuangan.

4. Milikilah Proteksi

Anda perlu memiliki dana untuk berjaga-jaga untuk mengantisipasi jika terjadi musibah. Minimal siapkan dana darurat sebesar 3 bulan pengeluaran untuk dana cadangan Anda. Dan untuk mengantisipasi resiko sakit tidak ada salahnya membeli asuransi kesehatan bila Anda tidak memiliki fasilitas kesehatan dari kantor. Sebagai kepala keluarga Anda juga perlu membeli asuransi jiwa untuk menjaga kelangsungam hidup keluarga bila terjadi musibah pada diri Anda. Asuransi lain yang perlu adalah asuransi kecelakaan, asuransi rumah dan kendaraan. Dengan memiliki asuransi diharapkan kerugian Anda jika tertimpa musibah akan ditransfer ke perusahaan asuransi. Jangan lupa tetap hitung asuransi agar sesuai kebutuhan dan pilih produk asuransinya dengan tepat.

5. Lakukan Financial Check up rutin

Tiap tahun lakukan perhitungan terhadap pertumbuhan asset yang Anda miliki. Apakah kekayaan Anda positif artinya asset lebih besar dibandingkan dengan hutang atau justru negatif ketika hutang Anda jauh lebih besar dibanding harta yang Anda miliki. Bila Anda ingin meningkatkan kekayaan sudah saatnya mengurangi hutang dan memperbanyak asset yang produktif. Financial checkup ini penting untuk mengetahui kondisi keuangan saat ini terutama untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangan Anda. Ada banyak hal yang harus di checkup yaitu pertumbuhan asset, penghasilan dan pengeluaran, dana cadangan, hutang, kondisi investasi, dll. Financial check up ini perlu dilakukan rutin sebagai evaluasi terhadap kondisi keuangan Anda. Dengan melakukan ini kita dapat mengatur strategi untuk memperbaiki kondisi keuangan kita dan ini mendukung untuk mencapai perencanaan keuangan lebih tepat. Seorang perencana keuangan dapat membantu Anda untuk melakukan Financial Chek Up
dengan baik.

Ok, bagaimana dengan Anda? Semoga tahun 2010 mendatang merupakan momentum Anda untuk meraih kehidupan keuangan yang lebih baik. Ingat kata pepatah : Change or die, atau hikmah yang kita petik dari kitab suci kita Al Qur’an : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib manusia kecuali mereka mengubah dirinya sendiri (Ar R’ad : 11). Yang penting lakukan mulai dari yang kita bisa dulu sambil terus meningkatkan ilmu dan ikhtiar kita. Insya Allah berbuah manfaat dan keberkahan hidup. Amin !



*) Penulis adalah perencana keuangan syariah, Managing Director Kurnia Consulting dan pengarang buku “Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang”, Bisa dihubungi di email : kurnia_09@yahoo.com dan nomor HP 021-92519848.
Kumpulan tulisannya dapat dibaca di www.srikhurniatun.blogspot.com



Sri Khurniatun, RFA
Managing Director Kurnia Consulting
Biro Perencana Keuangan Pribadi dan Keluarga
www.srikhurniatun.blogspot.com
Penulis buku "Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang"
Telp. 021-92519848
YM : kurnia_09

Selasa, 03 November 2009

Mempersiapkan dana haji

Setiap umat muslim tentunya ingin menunaikan rukun islam ke 5 yaitu pergi haji ke Baitullah. Seperti tertulis dalam kitab suci Al Qur’an "Adalah kewajiban manusia terhadap Allah untuk mengerjakan haji, jika dia sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…" (Surat Al Imron, ayat 97).

Memang rukun Islam ini tak wajib diikuti bila tidak mampu. Tetapi kewajiban bagi setiap muslim untuk berusaha memenuhinya. Asalkan punya niat dan komitmen yang kuat serta mempunyai strategi perencanaan keuangan yang baik, insya Allah kita dapat menunaikan haji dengan lancar karena punya persiapan dana yang memadai. Apalagi untuk menunaikan ibadah haji butuh dana besar dan selalu naik dari tahun ke tahun. Penyebabnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar sehingga biaya perjalanan haji jadi membengkak, selama ini ongkos naik haji diperhitungkan dalam kurs dollar Amerika Serikat. Faktor lain adalah naiknya setoran pemerintah kita kepada negara Arab Saudi, biaya akomodasi di Saudi yang meningkat, serta tiket pesawat yang harganya naik.

Bagaimana cara yang efektif untuk mempersiapkan dana haji?

1. Persiapan yang utama tentunya adalah mental dan fisik untuk menunaikan ibadah. Ibadah haji butuh fisik yang prima dan ruhiyah yang tinggi karena sepanjang waktu disana adalah untuk kegiatan ibadah. Untuk itu persiapan utama adalah kesehatan yang baik dan semangat ibadah yang tinggi.

2. Hitunglah berapa biaya haji yang dibutuhkan 5 tahun lagi, Caranya mencari info biaya haji saat ini beserta biaya lain yang diperlukan misalnya biaya mengadakan kegiatan walimatus syafar, biaya oleh-oleh, dll. Perhitungkan inflasi kenaikan biaya haji per tahunnya, (bisa pakai asumsi kenaikan 10 %/tahun ), dengan cara ini dapat ditentukan berapa biaya haji yang diperlukan 5 tahun lagi.

3. Berikutlah pilihlah produk investasi yang tepat dan sesuaikan dengan profil resiko Anda. Perhatikan juga jangka waktu berinvestasi. Karena Anda masih 5 tahun lagi bisa menggunakan produk yang lebih beresiko seperti reksadana syariah karena umumnya memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan tabungan serta deposito. Tetapi bila Anda tidak ingin produk yang beresiko Anda bisa menabung di tabungan haji yang kini tersedia di bank syariah. Produk tabungan haji ini umumnya memudahkan seseorang menyiapkan ONH karena bisa langsung didebet dari gaji atau tabungan kita sehingga kita dipaksa secara rutin untuk menyetor uangnya. Dengan memiliki tabungan haji ini maka otomatis Anda sudah didaftarkan ke Departemen Agama untuk mendapatkan kuota haji. Hanya sifat produk ini untuk menyimpan saja bukan berinvestasi.

Alternatif lain untuk mempersiapkan dana haji ini adalah dengan membeli emas. Umumnya biaya haji yang dibutuhkan berkisar antara 250 – 300 gram emas. Berinvestasi di emas ini memiliki keuntungan antara lain bila terjadi kenaikan harga, maka harga emas juga naik. Nilai emas juga berbanding lurus dengan nilai mata uang dollar AS. Artinya harga emas akan naik bila nilai dollar naik. Emas disini adalah emas koin atau batangan bukan emas perhiasan.


4. Berikutnya, pastikan Anda mendapatkan kuota atau kursi untuk menunaikan ibadah haji di 5 tahun mendatang. Untuk yang berinvestasi di tabungan haji di bank syariah ini sudah otomatis karena sudah didaftarkan. Tetapi bagaimana yang berinvestasi di emas atau reksadana? Ini bisa diatasi dengan mencairkan reksadana atau emas di tahun ke 4 dan menyimpannya di tabungan haji sehingga di tahun ke 5 Anda bisa dapat kuota.

Yok.. mulai sekarang siapkan dana haji, biar mimpi melihat Kabah bisa jadi kenyataan
Labaik Allahuma labaik..............................

Selasa, 27 Oktober 2009

PERENCANAAN KEUANGAN SYARIAH ; APA & BAGAIMANA ?

Perencanaan keuangan adalah proses mengelola keuangan sedemikian rupa sehingga kita dapat mencapai kepuasan ekonomis tertentu. Perencanaan keuangan lebih banyak berkaitan dengan keuangan pribadi (personal finance) daripada keuangan perusahaan (corporate finance), karena subjek dari perencanaan keuangan adalah pribadi atau keluarga, bukan perusahaan.

Fungsi dari perencanaan keuangan keluarga adalah merencanakan masa depan sedini mungkin untuk mencapai tujuan keuangan yang dicita-citakan melalui pengelolaan keuangan yang terencana, teratur dan bijak. Dengan adanya perencanaan keuangan, kita bisa mengontrol kondisi keuangan kita sekarang dan hari esok. Perencanaan keuangan secara komprehensif dapat meningkatkan kualitas hidup dengan cara mengurangi kekhawatiran akan kepastian masa depan finansial seseorang. Dengan melakukan perencanaan keuangan, kita bisa mendapatkan manfaat berupa:

o Meningkatkan efektifitas dalam mencari, menggunakan dan memproteksi sumber daya keuangan.
o Meningkatkan kontrol terhadap kegiatan keuangan dengan menghindari hutang yang berlebihan, kebangkrutan, dan ketergantungan terhadap orang lain secara finansial.
o Meningkatkan kualitas hubungan personal dengan adanya perencanaan yang baik dan efektifitas komunikasi ketika mengambil keputusan finansial.
o Kebebasan dari kekhawatiran finansial dengan cara melihat masa depan, mengantisipasi kebutuhan biayanya, dan mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.

Pada kenyataanya, di Indonesia masih sangat sedikit keluarga yang sudah menyusun rencana keuangannya. Faktor penyebabnya antara lain:

1. Kesadaran masyarakat yang rendah.
Perencanaan keuangan hanyalah untuk orang kaya, begitu persepsi yang sebagian masyarakat. Padahal, menjadi “kaya” adalah hasil dari proses perencanaan keuangan.

2. Tidak mempunyai tujuan keuangan yang jelas.
Tidak adanya visi masa depan menyebabkan kita bersikap mementingkan kebutuhan jangka pendek saja. Cenderung menghabiskan uang untuk memenuhi keinginan jangka pendek semata.

3. Keterbatasan waktu.
Pentingnya melakukan perencanaan keuangan baru dirasakan ketika kebutuhannya sudah di depan mata. Inilah yang menyebabkan masih banyaknya keluarga yang menganggap biaya pendidikan sebagai “biaya tak terduga” dan terpaksa harus berhutang untuk itu.

4. Keterbatasan ilmu dan pengetahuan bagaimana mengelola keuangan keluarga yang baik.
Pada jenjang pendidikan manapun, pada konsentrasi keilmuan apapun, lembaga pendidikan formal di Indonesia belum mengajarkan materi mengenai keuangan keluarga.

5. Belum mampu memilih produk keuangan yang semakin beragam.
Makin banyaknya produk keuangan tidak diimbangi dengan sosialisasi, edukasi, dan infrastruktur yang merata. Produk keuangan tertentu bahkan berkesan hanya untuk kalangan ekonomi atas, atau yang tinggal di kota besar saja.

Faktor tersebut di atas menjadi sebagian alasan mengapa sebagian masyarakat kita belum sejahtera. Sedikitnya ada 4 masalah utama yang membuat orang gagal menciptakan kehidupan yang sejahtera sebagaimana mereka harapkan, yakni:
1. Sikap suka menunda-nunda (procrastination)
2. Kebiasaan menghabiskan (spending habits)
3. Inflasi yang terus meningkat
4. Kebijakan pemerintah
Dua hambatan pertama adalah faktor internal atau personal yang dapat dirubah, dan dua penyebab berikutnya adalah faktor eksternal atau kondisi ekonomi makro yang mungkin tidak dapat kita rubah, tetapi sebetulnya dapat kita antisipasi.
Proses perencanaan keuangan terdiri dari 5 prosedur yang logis, dengan urutan sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan keuangan
2. Mengidentifikasi alternatif
2. Membuat dan mengimplementasikan rencana keuangan
4. Mengevaluasi rencana keuangan tersebut

Dimulai dari menentukan situasi keuangan sekarang berkaitan dengan penghasilan, pengeluaran, biaya hidup, arus kas keluar masuk, jumlah hutang, jumlah asset, dan lainnya.. Tahap selanjutnya adalah menentukan tujuan keuangan., misalnya saja, naik haji pada usia 45, menyekolahkan anak ke universitas ternama di Jakarta. Kemudian mengidentifikasi alternatif misalnya sebuah tujuan keuangan bisa kita capai dengan cara berinvestasi sedari sekarang atau berhutang ketika dibutuhkan, dan instrumen investasi apa yang bisa digunakan sebagai kendaraan investasinya. Tahapan berikutnya adalah membuat dan mengimplementasikan rencana keuangan setelah menentukan pilihan dan cara efektif untuk mencapai tujuan keuangan. Selanjutnya evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah rencana keuangan yang kita terapkan berhasil mendekati sasaran atau ada penyimpangan. Bila terdapat penyimpangan maka harus direvisi kembali misal dengan mengubah pilihan investasi, menambah income, dsb.

Atau kalau kita analogikan dengan mudah, sebetulnya proses perencanaan keuangan itu sama dengan suatu perjalanan dari satu titik start ke titik lain yang disebut dengan titik finish. Kendaraan yang bisa dipilih bermacam-macam untuk bisa sampai ke titik finish, namun tentunya dengan konsekuensi bahan bakar, kecepatan, keselamatan yang berbeda-beda pula. Jalan yang dipilih pun bisa bermacam-macam tergantung dari kendaraan atau jalur yang ditempuh. Semakin cepat untuk mencapai tujuan maka bahan bakar yang kita gunakan juga semakin banyak dan kendaraan yang kita pakai harus yang berkualitas dan terpercaya.
Profesi perencana keuangan juga dibutuhkan dalam mengelola keuangan keluarga secara syariah. Sebagaimana kita ketahui dalam suatu keluarga muslim juga diperlukan keseimbangan hidup baik dunia maupun di akhirat. Proses merencanakan keuangan keluarga secara syariah dimulai dari niat untuk merencanakan kehidupan yang baik dimasa depan dan berusaha dengan diringi sikap yang tawakal. Tujuan keuangan keluarga pun bisa dipecah menjadi tujuan keuangan untuk memenuhi kehidupan di dunia seperti merencanakan pendidikan anak, rumah, kendaraan, liburan, dll. Sedangkan tujuan keuangan untuk memenuhi kebutuhan akhirat seperti biaya umroh/haji, zakat/sedekah, berkorban, dll. Tujuan keuangan ini juga disesuaikan prioritasnya sesuai dengan prinsip syariah Islam misalnya menikahkan anak adalah prioritas dibandingkan membelikan rumah untuk mereka. Pendidikan anak lebih diutamakan daripada naik haji, dll.
Hal lain yang membedakan perencanaan keuangan syariah dan konvensional adalah pemilihan produk investasi yang digunakan adalah yang sesuai dengan syariah Islam, yaitu pada deposito bagi hasil di bank syariah, asuransi syariah, dan reksadana syariah. Aspek transaksi keuangan pun diusahakan tidak melanggar aturan syariat dan menghindari riba (bunga), maysir (judi dan spekulasi), serta gharar (ketidak pastian). Membuat rencana waris juga tidak boleh melanggar hukum waris Islam, dan perbedaan lain adalah adanya cleansing wealth (penyucian harta) berupa zakat, infaq, sedekah, dan wakaf. Jadi perencanaan keuangan syariah senantiasa diletakkan pada prinsip halal dan barokah dan berorientasi kepentingan dunia dan akhirat.
Hasil akhir dari perencanaan keuangan syariah adalah sebuah keluarga akan terpenuhi kebutuhan primernya, ada pengumpulan asset dan investasi secara Islam, kebahagiaan duniawi, ada pengumpulan asset dan investasi akhirat, serta mencapai kebahagiaan ukhrowi (akhirat).
Profesi perencana keuangan syariah ada 2 macam, yang pertama adalah yang terikat pada lembaga keuangan tertentu seperti bank, asuransi, atau manajer investasi dan tentunya dalam memberikan rekomendasi dikaitkan dengan produk yang mereka promosikan. Kemudian yang kedua adalah perencana keuangan independen yang tentunya bisa memberikan saran yang obyektif karena tidak terikat pada kepentingan menjual produk tertentu. Landasan kepercayaan harus terjalin antara klien (keluarga) dengan perencana keuangan agar saling terbuka dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Keterbukaan ini penting agar kondisi klien ini dapat diketahui permasalahannya secara detil, sehingga perencana bisa melakukan analisis dan memberikan rekomendasi yang tepat.
Lalu kemampuan profesional apa saja yang harus dimiliki oleh perencana keuangan syariah? Tentunya sesuai tujuan utama dari perencana keuangan yaitu mampu memberikan konsultasi sesuai dengan kebutuhan klien, menentukan investasi yang sesuai, dan mampu memberikan analisis yang terbuka dan transparan terhadap investasi yang menjadi pilihan. Perencana keuangan syariah juga dituntut menguasai permasalahan investasi syariah, asuransi secara syariah, pajak dan zakat, faraid (ilmu waris) dan hibah, wasiat, serta infaq dan sadaqah.
Hal yang lain yang cukup krusial adalah seorang perencana keuangan syariah dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas agar mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan nasabah yang beragam, dapat dipercaya, disiplin dan bertanggung jawab, dan tentunya harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada keluarga yang menjadi kliennya sehingga tujuan mereka dapat tercapai. Tak ubahnya dengan profesi psikolog maka perencana keuangan syariah wajib mampu menjadi tempat berbagi/curhat bagi kliennya. Tugas yang mulia tentunya, adakah Anda tertarik dengan profesi ini?
*) Penulis adalah perencana keuangan syariah, Managing Director Kurnia Consulting

Kamis, 16 Juli 2009

TIPS dan TRIK AGAR CERDAS DAN CERDIK MENGELOLA UANG

Resensi  Buku Keuangan 
  • Judul Buku: Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang
  • Pengarang: Sri Khurniatun, RFA
  • Penerbit:  TransMedia Pustaka
  • Jumlah halaman:  156 halaman

 

Uang bukan segala-segalanya, tetapi  segalanya tidak berjalan lancar tanpa adanya uang. Darimanapun sumber uang entah dari bekerja ataupun berwirausaha tetap butuh pengelolaan dengan baik   agar tidak kebobolan oleh nafsu belanja, iming-iming kemudahan berhutang di depan mata maupun inflasi. Demikianlah prolog dari buku ”Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang”  buah pena Sri Khurniatun, RFA.

 

Inilah satu-satunya buku keuangan yang komprehensif. Jarang buku yang mengupas buku keuangan pribadi maupun keuangan bisnis dalam satu topik, umumnya diulas dalam buku yang berlainan. Namun buku ini lain dan   lebih beragam karena memuat 2 bagian yaitu bagian pertama tentang mengelola keuangan pribadi dan bagian kedua mengelola keuangan bisnis. Membeli buku ini tentu saja lebih efisien  karena ”two in one’ jadi ada 2 bahasan dalam satu buku.

 

Pada bagian pertama terdiri dari 5 bab tentang perencanaan keuangan pribadi.  Dimulai dari pentingnya perencanaan keuangan  bagi pribadi dan keluarga. Kurangnya kesadaran warga Indonesia dalam menyusun rencana keuangan juga dibahas antara lain tidak punya tujuan keuangan yang jelas, keterbatasan waktu, dan tidak menguasai ilmu mengelola keuangan dengan baik.  Bab berikutnya membahas tips mengelola keuangan rumah tangga dimulai dari menentukan tujuan keuangan, menyusun anggaran keluarga, menentukan sistem pengelolaan penghasilan, pentingnya dana darurat dan asuransi, serta tips membangun komunikasi keuangan dengan pasangan. Dilanjutkan bab khusus tentang mengelola keuangan bagi kaum lajang, mengatasi hutang pribadi dan bagian ini ditutup dengan bahasan kiat memilih investasi. Ragam contoh  produk investasi juga dibahas tuntas dalam bab terakhir dari bagian pertama ini.

 

Bagian kedua buku ini fokus membahas bagaimana tips mengelola keuangan bagi pelaku usaha kecil yang umumnya kondisi  keuangan yang belum rapi contohnya  uang bisnis dan uang pribadi masih tercampur,  dan belum punya pembukuan yang standar. Diawali dari merancang modal usaha, memilih sumber modal,  mengenal jenis-jenis suku bunga kredit, dan bagaimana memulai usaha dengan modal sendiri. Bab berikutnya lebih ke arah teknis membuat pembukuan, laporan keuangan, dan menghitung  titip impas/Break Even Point. Bab ini juga disertai contoh praktikal dalam bentuk tabel pembukuan maupun perhitungannya sederhana sehingga dapat dikuti dengan mudah.

 

 Bab selanjutnya  berisi kiat mengelola hutang usaha,bagaimana langkahnya sebelum berhutang dan bagaimana pula mengatasi hutang yang macet.  Termasuk berbisnis dengan cara bagi hasil juga diulas dalam bab ini.  Dan pada bagian 2 ini ditutup dengan topik ada lima kesalahan pebisnis dalam mengelola keuangan yaitu mencampur uang pribadi dan usaha, tidak mempunyai formula pembagian keuntungan, menggunakan kredit konsumtif untuk usaha, hanya menggunakan tolak ukur omset sebagai standar kesuksesan, dan  melakukan aktivitas yang menyebabkan aliran kas macet. Tidak lupa  disertai dengan tips untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

 

Buku ini patut menjadi bacaan wajib bagi rumah tangga sekaligus pelaku usaha kecil  yang masih awam mengelola keuangan dan perlu hal yang simpel dan mudah dimengerti. Istimewanya lagi masing-masing bab ada contoh kasus nyata dalam bentuk format tanya jawab, jadi tidak hanya sekedar wacana.  Buku ini hadir sebagai salah satu panduan bagi mereka yang menginginkan kehidupan keuangan pribadi maupun bisnis yang lebih terencana, teratur dan bijak.  Anda layak memiliki dan membacanya!

 

Berikut pujian terhadap buku ini

 

 

”Memahami dan mempraktekkan manajemen keuangan pribadi dan bisnis salah satu kunci bagi mereka yang menginginkan keamanan, kesejahteraan, dan kebebasan secara finansial”.

-Badroni Yuzirman – Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Diatas (TDA)

 

”Mau ngatur pengeluaran rumah tangga, menambah penghasilan sampingan, ngurusin hutang pribadi ataupun usaha, atau menambah modal usaha? Buku ini semua punya solusinya”

- Ahmad Gozali,  Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekan

 

”Melalui buku ini penulis memberikan rincian betapa pentingnya perencanaan keuangan bagi siapapun. Tanya jawab dan solusi perencanaan keuangan pribadi dan keluarga dibahas gamblang sehingga mudah diikuti oleh setiap kalangan”

- Haryajid Ramelan, Perencana Keuangan dan Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia

 

”Buku  ini mudah, simpel, dan ringan. Semoga buku ini menambah khasanah pengetahuan pengelolaan keuangan keluarga sekaligus usaha kecil yang kita rintis. Lebih baik menyisakan waktu untuk belajar masalah keuangan keluarga dan usaha kecil daripada terperosok ke berbagai permasalahan dengan biaya belajar (kerugian) yang lebih besar.

- Isdiyanto, Pemimpin Redaksi Majalah Wirausaha dan Keuangan

 

”Manusia punya dua masalah keuangan, kekurangan dan kelebihan uang. Buku ini insya Allah bisa jadi solusi untuk dua masalah tersebut.

Jay de Terorist – Rektor Institut Kemandirian