Kamis, 08 Juli 2010

MENGHADAPI KENAIKAN HARGA

Pertanyaan :
Salam kenal Ibu Sri,
Langsung saja, saya seorang ibu rumah tangga yang berbisnis makanan kecil-kecilan di rumah dan menerima pesanan. Hasilnya lumayan bisa menambah belanja dapur. Suami bekerja sebagai PNS dan tidak mempunyai penghasilan sampingan. Anak kami 3 orang. Beban hidup kami bertambah berat menghadapi kenaikan harga sembako di bulan ini. Boro-boro menabung buat belanja sehari-hari juga belum tentu cukup. Harga bahan baku dagangan juga naik jadi saya kepikiran buat menaikkan harga jualan tetapi takut kalau dagangan tidak laku. Adakah kiat-kiat dari Ibu untuk mengatasi permasalahan ini?

Annisa H
Jakarta Selatan

Jawaban :

Halo Ibu Annisa, senang sekali berkenalan dengan Anda.

Kita semua prihatin dengan kenaikan harga barang yang terjadi akibat harga sembako akibat kenaikan tariff dasar listrik yang naik mencapai 40 % - 50 % di bulan ini. Tetapi kita tidak boleh mengeluh dan meratapi kondisi ini. Kita harus hadapi kenyataan ini dengan tenang dengan mencari solusi terbaik dan terus meningkatkan kecerdasan finansial. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menyiasati kenaikan harga sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan kita dengan baik, antara lain :

1. Susunlah anggaran belanja bulanan

Anggaran bulanan membuat kita lebih terkendali dalam mengatur pengeluaran. Setiap awal bulan catatlah semua pengeluaran yang akan dilakukan. Tentu saja besar pengeluaran harus disesuaikan dengan penghasilan yang diterima. Kemudian patuhi anggaran tersebut.

2. Buatlah perencanaan keuangan dengan matang

Perencanaan keuangan ini penting agar setiap kebutuhan di masa depan sudah diperhitungkan sebelumnya dengan mempertimbangan kenaikan harga atau inflasi yang terjadi. Contohnya bila Anda tahun depan akan menyekolahkan anak Anda ke SMA dan butuh Uang Pangkal 5 juta rupiah , dan dengan asumsi kenaikan harga tahun depan 10 %, maka Uang Pangkal yang harus disiapkan menjadi 5 juta rupiah + 10 % X 5 juta = 5.500.000 rupiah. Lakukan setiap kebutuhan Anda di masa depan dengan perhitungan seperti ini sehingga kita lebih siap untuk menghadapi kenaikan harga dengan merencanakan sebelumnya.

3. Lakukan investasi pada produk yang bisa mengimbangi tingkat inflasi
Jaman sulit begini apa memungkinkan untuk investasi? Tetap perlu bu. Investasi tetap jalan biarpun pada kondisi apapun. Kita tidak tahu apakah di masa depan kondisi akan lebih sulit lagi. Sisihkan minimal 10 % penghasilan di depan begitu kita terima dan investasikan pada produk keuangan yang hasilnya bisa mengimbangi kenaikan harga. Contohnya : emas dan reksadana. Biasanya emas harganya hampir selalu naik kalau terjadi kenaikan harga barang. Emas yang cocok buat investasi adalah emas batangan atau emas koin. Reksadana adalah produk investasi yang dilakukan bersama-sama. Caranya adalah kita menyetor sejumlah dana pada lembaga yang bernama manajer investasi kemudian dana kita bersama investor lain diinvestasikan ke berbagai produk investasi seperti saham, obligasi, deposito,dll.

4. Bijak dalam pengeluaran
Lakukan evaluasi setiap pengeluaran yang dilakukan. Lihatlah komponen mana yang bisa dihemat. Berpikir ulang dahulu setiap melakukan pembelian. Prioritas belanja yang diperlukan dahulu. Carilah tempat belanja yang lebih murah. Usahakan jangan terlalu sering pergi ke pusat perbelanjaan. Bila akan berbelanja buatlah catatan terlebih dahulu sesuai anggaran yang disusun. Hemat pemakaian listrik dan telepon, dan rawatlah barang-barang di rumah dengan baik sehingga tidak cepat rusak.

5. Mencari penghasilan tambahan
Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi maka tindakan realistis adalah terus berikhtiar untuk mencari penghasilan tambahan. Untuk yang ini Bu Anissa sudah terbiasa berdagang. Tetapi mungkin belum optimal untuk memasarkan dalam skala lebih luas lagi misalnya tidak hanya dagang di rumah dan tunggu pesanan, tetapi tawarkan ke perkantoran, klub arisan, pengajian, dll. Ibu harus aktif dalam berbagai komunitas sehngga orang akan mengenal makanan buatan Ibu. Upaya lain misalnya libatkan anggota keluarga untuk aktif mencari penghasilan tambahan ini. Potensi suami di luar jam kerja bisa digunakan, tidak ada salahnya melibatkan anak berjualan agar mengasah kecerdasan finansial sejak dini.

Kemudian untuk memutuskan harga dagangan Ibu dinaikkan atau tidak lakukan perhitungan dengan detil. Hitung kembali besarnya tambahan biaya produksi akibat ada kenaikan harga. Usahakan cari cara lain dibanding menaikkan harga agar tidak memberatkan konsumen, misalnya dengan mencari pengganti bahan baku yang lebih murah, atau dengan ukuran yang lebih kecil. Komunikasikan pada konsumen perihal ini dan ketika terpaksa menaikkan harga minta pertimbangan pada konsumen agar tidak memberatkan.
Demikian Ibu Annisa , semoga bisa membantu.

Jumat, 02 Juli 2010

Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Pembaca blog, ini tulisan saya yang dimuat di eramuslim.com.
Semoga bermanfaat


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam kenal Bu Sri,

Saya seorang calon ibu yang sedang mengandung anak pertama. Saya ingin memberikan masa depan yang baik untuk anak saya nantinya dengan memberikan pendidikan yang terbaik. Untuk itu saya ingin mempersiapkan dana pendidikannya. Pertanyaan saya :

1. Kapan waktu yang tepat untuk mempersiapkan dana pendidikan buat anak apakah pas mengandung atau nanti setelah melahirkan,
2. Bagaimana langkah-langkah untuk menyiapkan dana pendidikan anak,
3. Apa investasi yang tepat buat persiapan dana pendidikan anak saya? Terima kasih atas jawaban yang diberikan.

Riyanti – Sidoarjo, Jawa Timur
Jawaban

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Salam kenal kembali Ibu Riyanti,

Keputusan Anda untuk mempersiapkan dana pendidikan anak secara dini sangat tepat. Semakin panjang jangka waktu persiapannya akan memperingan Anda karena beban investasi lebih ringan. Apalagi data menunjukkan bahwa biaya pendidikan setiap tahun mengalami kenaikan yang melebihi inflasi. Sebagai gambaran jika inflasi di negara kita 6–7 % maka biaya pendidikan bisa naik 10–20%. Apalagi pada sekolah unggulan/favorit yang untuk mendaftarpun bisa waiting list maka kenaikan biaya bisa lebih besar lagi. Waktu yang tepat buat mempersiapkan dana pendidikan anak tidak ada patokan yang baku. Anda bisa mempersiapkan sejak mengandung atau sesudah melahirkan. Intinya semakin cepat akan semakin baik dan ringan untuk berinvestasi.

Kemudian ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam perencanaan dana pendidikan antara lain :

1. Tentukan kapan dana dibutuhkan. Jika Anda sedang mengandung anak pertama maka dana untuk masuk TK dibutuhkan 5 tahun lagi. Dengan demikian waktu Anda berinvestasi untuk dana pendidikan TK selama 5 tahun.
2. Cari informasi dana pendidikan untuk anak Anda saat ini. Misalnya untuk TK tentukan standar sekolah yang diinginkan dan informasi keseluruhan biaya yang dibutuhkan, mulai dari uang pangkal, seragam, buku-buku, dan biaya extrakurikuler.
3. Kalikan dengan asumsi kenaikan biaya pendidikan per tahun hingga anak Anda masuk sekolah. Contohnya biaya pendidikan TK besarnya 5 juta, dengan asumsi kenaikan per tahun 10 %, maka dana yang dibutuhkan 5 tahun lagi sebesar = Rp 5 juta X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 = 8.857.085
4. Tentukan dana yang perlu ditabung per tahun atau perbulan. Untuk mengetahuinya perlu dicari asumsi imbal hasil dari investasi yang Anda lakukan. Maka dapat ditentukan tabungan per tahun atau per bulan. Semakin tinggi imbal hasil yang diharapkan maka tabungan semakin kecil.
5. Pilihlah produk investasi yang memberikan imbal hasil yang diharapkan, ada beberapa alternatif instrumen investasi yang dipilih dalam mempersiapkan dana pendidikan anak, antara lain :

1. Tabungan di Bank

Umumnya kebanyakan orang tua masih menggunakan cara menabung di bank dalam mempersiapkan dana pendidikan. Kelebihannya uang yang disimpan aman, hasilnya pasti. Kekurangannya memberikan bagi hasil yang rendah dan bila orang tua sebagai penabung meninggal dunia maka tabungan dana pendidikan akan terhenti. Tetapi untuk hal ini jangan khawatir karena saat ini produk tabungan pendidikan biasanya sudah ditambahkan manfaat asuransi jiwa. Jadi jika si penabung meninggal dunia maka setoran tabungan akan diteruskan oleh perusahaan asuransi hingga dananya tetap tersedia. Biasanya produk tabungan pendidikan ini tidak bisa diambil sebelum jatuh tempo yaitu saat anak masuk sekolah.

2. Deposito Bank

Deposito bisa dilakukan bila Anda ingin melakukan investasi sekaligus di depan dan tidak disetor bulanan. Atau bisa dilakukan dengan setoran tabungan per bulan sampai jumlahnya mencapai yang disyaratkan bank untuk membuka deposito, tiap bank berbeda-beda tetapi umumnya di atas Rp 1 juta rupiah, barulah rekening dipindahkan ke deposito. Deposito umumnya memberikan bagi hasil lebih tinggi dari tabungan, aman, dan terjamin. Tetapi umumnya masih memberikan imbal hasil rendah sehingga perlu waktu lebih lama atau dana lebih besar agar dananya bisa mencukupi.
3. Asuransi Pendidikan

Cara kerjanya adalah Anda membayar sejumlah premi sekaligus atau berkala pada perusahaan asuransi. Selanjutnya orang tua akan mendapatkan dana pendidikan yang disesuaikan dengan tahapan masuk sekolah anak. Kelebihan asuransi pendidikan bila dana setoran terhenti karena penabung meninggal dunia maka perusahaan asuransi akan menjamin dana pendidikan tetap diberikan. Kekurangannya biasanya imbal hasil yang ditawarkan kecil, sehingga perlu dana lebih besar agar sesuai dengan kebutuhan dananya.

4. Emas

Berinvestasi dengan emas juga bisa menjadi alternatif karena harga emas biasanya mengalami kenaikan yang seimbang dengan inflasi. Emas juga bisa diterima di mana-mana. Kekurangannya butuh penyimpanan yang aman, dan harganya memang naik tetapi hanya mengimbangi inflasi sehingga belum memberikan imbal hasil yang memadai.


5. Reksadana

Merupakan investasi yang dilakukan secara berjamaah dengan menggabungkan seluruh uang investor dalam satu wadah yang dikelola manajer investasi. Biasanya oleh manajer investasi uang akan diinvestasikan pada produk keuangan seperti deposito, saham dan obligasi. Kelebihan biasanya memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada produk keuangan lainnya karena dikelola manajer investasi dan investasi pada produk yang memiliki keuntungan lebih tinggi. Kekurangannya sebagaimana kaidah yang berlaku dalam investasi, makin besar potensi untung resiko juga tinggi karena nilai reksadana bisa turun sehingga mengurangi jumlah uang yang diinvestasikan.

6. Tanah atau properti

Ini bisa dilakukan bila jangka waktu persiapan dana pendidikan masih cukup panjang misalnya lebih dari 10 tahun. Properti dan tanah memang kenaikan harganya cukup tinggi diatas nilai inflasi, tetapi perlu dana investasi yang besar untuk membelinya dan properti/tanah dananya tidak mudah dicairkan dalam waktu cepat.

Demikian Ibu Riyanti, semoga bisa membantu.

Selamat mempersiapkan dana pendidikan anak Anda.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Sri Khurniatun, MM, RFA
Managing Director Kurnia Consulting
dan Penulis Buku Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang.